Makalah Dasar Pemahaman Tingkah Laku



BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setiap ada masalah pasti ada sikap untuk memecahkanya. Itulah kata-kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Tetapi kadang kita tidak mengetahu apa sebenarnya sikap itu, dan bagaimana kita mengambil sikap dalam setiap permasalahan. Begitu juga dengan prasangka. Kadang kita kurang memahami apa yang di maksud dengan prasangka itu sendiri. Bahkan kita mengartikan prasangka itu identik dengan hal-hal yang negatif atau hal jelek saja, padahal sebenarnya tidak demikian. Maka dari itu dalam makalah ini kami akan mencoba membahas tentang sikap dan prasangka, untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita.

 
Dasar Pemahaman Tingkah Laku
Tingkah Laku

B. RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian dan komponen-komponen sikap?
Bagaimana pembentukan dan perubahan sikap?
Apa fungsi dan sumber sikap?
Bagaimana hubungan sikap dan perilaku?
Apa pengertian prasangka?
Bagaimana pembentukan dan sumber prasangka?
Bagaimana upaya mengatasi prasangka?
 Apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional?
Mengapa kecerdasan emosional sangat penting?
 Bagaimana peranan kecerdasan emosional terhadap perkembangan?
Bagaimana hubungan serta penerapan kecerdasan emosional dalam pembelajaran peserta didik?
C.      Tujuan
1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional.
2.      Mengetahui pentingnya kecerdasan emosional dalam perkembangan peserta didik.
3.      Mengetahui peran kecerdasan emosional terhadap perkembangan peserta didik.
4.      Mengetahui hubungan serta penerapan kecerdasan emosional dalam proses pembelajaran peserta didik.

D.     Manfaat
Dengan menyadari variasi kecerdasan emosional pada tiap individu, memperluas wawasan tentang penanganan peserta didik yang sedang dalam masa transisi. Sehingga dapat memberikan arahan serta bimbingan untuk menyadari kecenderungan emosi yang terdapat dalam diri sendiri menuju  arah positif.
                        BAB II
PEMBAHASAN

A. SIKAP
1. Pengertian dan Komponen-Komponen Sikap
Drs. Alex Sobur dalam bukunya yang berjudul Psikologi Umum menyimpulkan bahwa: sikap adalah kecenderungan bertindak, berpikir, berpersepsi, dan merasa, dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukanlah perilaku, tetapi lebih merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara tertetntu terhadap objek sikap. Objek sikap bisa berupa orang, benda, tempat, gagasan, situasi, atau kelompok. Sikap mengandung aspek evaluatif, artinya suatu penilaian (menyenangkan atau tidak menyenangkan, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, dsb).
Sikap mempunyai tiga komponen dasar yaitu kognitif (keyakinan), afektif (perasaan), dan konatif (tindakan). Komponen kognitif  melibatkan apa yang dipikirkan dan diyakini oleh seseorang terhadap objek sikap. Komponen afektif melibatkan perasaan atau emosi. Sedangkan komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Kita sering mengekspresikan sikap dalam pernyataan opini: (“Saya senang mangga”, “Saya tidak mendukung partai X”) Namun meskipun sikap mengekspresikan perasaan, kita sering kali mengaitkan sikap dengan kognisi. Jelasnya, keyakinan mengenai objek sikap (“mangga mengandung banyak vitamin”, “partai X tidak memperhatikan kaum miskin”). Sikap juga dikaitkan dengan tindakan yang kita ambil karma objek sikap (“Saya makan mangga setiap hari”, saya tidak pernah memilih partai X”). Dengan demikian, ahli psikologi social memandang sikap sebagai gabungan dari komponen kognitif, afektif, dan konatif.
2. Pembentukan dan Perubahan Sikap
Menurut salah seorang tokoh bernama Krech dan kawan-kawanya, sikap tidak hanya ditujukan untuk ilmu sosial saja, tetapi juga penting untuk orang yang ingin memengaruhi kegiatan soaial, seperti orang tua, pendidik, pemimpin, pembaharu, politikus, pedagang, dan orang-orang yang tertarik untuk mengembangkan sikap-sikap baru dan cara untuk menguatkan atau melemahkan sikap.
     Sikap terbentuk karena beberapa hal diantaranya adalah;
     a. Terbentuk dari pengelaman melalui proses belajar.
Memang ada sebagian tokoh yang berpendapat bahwa ada faktor genetic yang berpengaruh pada pembentukan sikap (Waller dkk, 1990; Keller dkk, 1992) namun sebagian besar ahli psikologi sosial lebih berpendapat bahwa sikap terbentuk dari pengalaman melalui proses belajar. Dampak dari pendapat ini , bahwa dapat disusun berbagai upaya untuk mengubah sikap seseorang,  misal melalui  pendidikan, pelatihan, komunikasi, penerangan dsb.
     b. Terbentuknya karena norma-norma yang telah di hayati sebelumnya.
     c. Terbentuknya karena meniru sikap dari pihak lain yang pernah di ketahuinya.
     d. Karena adanya interaksi dengan obyek tertentu baik interaksi dalam kelompok maupum dari luar.
     e. Karena faktor intern di dalam diri pribadi manusia, yakni selektivitasnya sendiri, daya pilihnya sendiri, atau minat perhatianya untuk menerima dan mengolah berbagai pengaruh yang datang dari luar dirinya.
Perubahan sikap pada individu, ada yang terjadi dengan mudah dan ada yang sukar. Hal ini bergantung pada kesiapan seseorang untuk menerima atau menolak stimulus yang datang kepadanya. Terjadinya perubahan sikap, sering dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena perkembangan IPTEK dapat menimbulkan pergeseran nilai dan norma, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan sebagainya.
Menurut pandangan beberapa tokoh yaitu Krech, Crutchfield, dan Ballachey: Keterubahan suatu sikap bergantung pada karakteristik sistem sikap, kepribadian individu, dan afiliasi individu terhadap kelompok; dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Karateristik sistem sikap
a. Sikap extreme
Yaitu sikap yang sulit diubah baik dalam perubahan yang kongruen maupun yang inkongruen. Perubahan kongruen adalah perubahan yang searah yakni bertambahnya derajat kepositifan atau kenegatifan dari sikap semula. Sedangkan perubahan inkongruen adalah perubahan sikap kearah yang berlawanan. Yang semula positif menjadi negative dan sebaliknya.
b. Multifleksitas
Yaitu suatu sikap yang mudah diubah secara kongruen tetapi sulit diubah secara inkongruen atau sebaliknya
c. Konsistensi
Yaitu sikap yang stabil karena adanya komponen yang saling mendukung. Sikap ini mudah dirubah secara kongruen, sedangkan sikap yang tidak stabil lebih mudah diubah secara inkongruen.
d. Interconnectedness
Yaitu keterikatan suatu sikap dengan sikap lain yang saling berhubungan. Contohnya ketaatan seseorang terhadap agama yang dianutnya dikaitkan dengan kencintaan yang begitu mendalam kepada orang tuanya yang telah meninggal karena agama yang sama. Sikap ini sulit diubah secara inkongruen.
2. Kepribadian individu
Perubahan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek kepribadian. Adapun aspek-aspek kepribadian tersebut adalah:
a. Intelegensi
Tingkat pemahaman seseorang dalam memahami suatu informasi sangat mempengaruhi sikapnya.
b. General persuasibility
Adalah kesiapan seseorang untuk menerima pengaruh social tanpa memandang komunikatornya, topik, media, dan komunikasinya.
c. Self defensiveness
Yaitu kecenderungan seseorang untuk mempertahankan sikapnya demi mempertahankan hargadirinya.
3. Afisiliasi kelompok
Perubahan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh dukungan kelompok terhadap dirinya. Seseorang yang telah memegang teguh norma kelompoknya akan sulit diubah sikapnya secara inkongruen tetapi lebih mudah dirubah secara kongruen dengan cara diberi arahan dan pengetahuan atau pengalaman oleh kelompoknya.
3. Fungsi dan Sumber Sikap
Seorang tokoh yang bernama Rita L. Atkinson dan kawan-kawan menyebutkan adanya lima fungsi sikap, yaitu:
a. Fungsi instrumental
Dikatakan demikian karena sikap yang kita pegang mempunyai alasan untuk mendapatkan suatu manfaat yang semata-mata mengekspresikan keinginan kita untuk mendapatkan hadiah dan menghindari hukuman.
b. Fungsi nilai ekspresif
Sikap yang mengekspresikan atas mencerminkan konsep diri kita terhadap suatu obyek tertentu.
c. Fungsi perubahan ego
Sikap yang berfungsi melindungi kita dari kecemasan atau ancaman bagi harga diri kita.
d. Fungsi penyesuaian social
Dengan sikap tertentu kita dapat menjadi anggota dari suatu komunitas tertentu.
e. Fungsi Pengetahuan
Sikap yang membantu kita memahami dunia, yang membawa keteraturan bagi berbagai informasi yang harus kita asimilasikan dalam kehidupan sehari-hari, dikatakan memiliki fungsi pengetahuan.
Ahli psikologi sosial (Calhoun dan Accocella, 1990) menemukan tiga sumber sikap yang utama, yaitu:
a. Pengalaman Pribadi, sikap dapat merupakan hasil pengalaman yang menyenangkan atau menyakitkan dengan objek sikap.
b. Pemindahan perasaan yang menyakitkan, pemindahan adalah secara tidak sadar mengalihkan perasaan yang menyakitkan (terutama permusuhan) jauh dari objek sebenarnya pada objek lain yang lebih aman.
c. Pengaruh sosial, sumber ini dapat dimungkinkan menjadi sumber utama dalam sikap.
4. Hubungan Sikap dan Perilaku
 Berbagai temuan penelitian tentang hubungan antara sikap dan perilaku memang belum konklusif. Banyak penelitian yang menyimpulkan adanya hubungan yang sangat lemah, bahkan negatif, sedangkan sebagian penelitian lain menemukan adanya hubungan yang meyakinkan.
Dalam hubungan dengan hasil penelitian yang kontradiktif ini, tokoh yang bernama Warner dan DeFleur mengemukakan tiga postulat untuk mengidentifikasi tiga pandangan umum mengenai hubungan sikap dan perilaku, yaitu:

a. Postulat Konsistensi
Postulat konsistensi mengatakan bahwa sikap verbal merupakan petunjuk yang cukup akurat utuk memprediksikan apa yang akan dilakukan seseorang bila ia dihadapkan pada suatu objek sikap.
b. Postulat Variasi Independen
Postulat Variasi Independen mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa sikap dan perilaku berhubungan secara konsisten. Sikap dan prasangka merupakan dua dimensi dalam diri individu yang berdiri sendiri, terpisah dan berbeda. Perilaku ditentukan oleh banyak faktor selain sikap, dan faktor-faktor lain itu mempengaruhi konsistensi sikap-perilaku. Salah satu faktor yang jelas adalah  tingkat kendala dalam situasi. Kita sering kali harus bertindak dalam cara yang tidak konsisten dengan apa yang kita rasakan atau yakini.
c. Postulat Konsistensi Tergantung
Postulat konsistensi tergantung menyatakan bahwa hubungan sikap dan perilaku sangat ditentukan oleh faktor-faktor situasional tertentu. Norma-norma, peranan, keanggotaan kelompok, kebudayaan dan sebagainya merupakan kondisi ketergantungan yang dapat mengubah hubungan sikap dan perilaku. Oleh karena itu, sejauh mana prediksi perilaku dapat disandarkan pada sikap, akan berbeda dari waktu ke waktu dan dari satu situasi ke situasi lainya.
B. PRASANGKA
1. Definisi Prasangka
Prasangka atua prejudice berasal dari kata latin prejudicium, Prae berarti sebelum danJudicium berarti keputusan  (Hogg, 2002). Chambers English Dictionary  (dalam Brown,  2005) mengartikan prasangka sebagai penilaian atau pendapat yang diberikan oleh seseorang tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Hal senada juga diberikan oleh Hogg (2002), yang menyatakan bahwa prasangka merupakan sikap sosial atau keyakinan kognitif yang merendahkan, ekspresi dari perasaan yang negatif, rasa bermusuhan atau perilaku diskriminatif  kepada anggota dari suatu kelompok sosial tertentu sebagai  akibat dari  keanggotaannya dalam kelompok tertentu.
 Sedangkan menurut (Soelaiman;1987) pengertianya sebagai berikut:
1)      Semula diartikan sebagai suatu preseden, artinya keputusan yang diambil atas dasar pengalaman yang lalu.
2)      Dalam bahasa Inggris mengandung arti pengambilan keputusan tanpa penelitian dan pertimbangan yang cermat, tergesa-gesa atau tidak matang.
3)      Untuk mengatakan prasangka dipersyaratkan pelibatan unsur emosional (suka-tidak suka) dalam keputusan yang telah diambil tersebut.
Disebabkan sifatnya yang belum menetap, prasangka dapat menjurus pada pengertian yang positif dan negatif, sehingga merupakan pendapat yang bisa berubah-ubah, atau diubah, dipengaruhi, dan juga dapat digunakan untuk menafsirkan segala fakta tanpa berdasarkan fakta yang meyakinkan. Artinya prasangka sebagai pendapat yang dapat diubah dan mengubah fakta yang diterima dan dikumpulkanya, yang mungkin positif meyakinkan atau negatif mengaburkan, menguntungkan – merugikan atau melamahkan.
2. Sumber dan Pembentukan Prasangka
 Pembentukan prasangka
Prasangka merupakan anggapan atau pendapat dasar tentang segala sesuatu yang belum dapat di tetapkan kebenaranya. Dengan kata lain prasangka merupakan prasangka yang dapat di ubah dan dapat mengubah fakta yang telah dikumpulkam dan di yakininya.Seorang individu atau kelompak yang mempunyai prasangka terhadap individu/kelompok lain akan memandang segala fakta yang baik akan menjdi propaganda
Menurut Sheif, Herding dkk, dalam bukunya (koeswara:1988), prasangka merupakan sikap yang tidak toleran dan tidak fair dengan golangan lain. Atu dengan kata lain prasangka merupakan istilah yang menunjuk pada sikap yang kurang menyenangkan yang di miliki oleh suatu anggota dari kelompok-kelompok terhadap kelompok lain yang di dasarkan atas norma-norma yang mengatur perlakuanya terhadap golongan-golongan di luar kekompoknya.
Sedangkan terbentuknya prasasngka itu sendiri teerbentuk dalam masa perkembangan seseorang bukan di bawa sejak lahir dan sama halnya dengan sikap. Karna terbentuknya paa masa perkembangan seseorang maka orang tua di anggap guru utama Prasangka pada saat seseorang masih usia dini. Selain itu tman juga seseorang yang

Sama halnya dengan sikap, prasasngka terbentuk dalam masa perkembangan seseorang bukan di bawa sejak lahir. Karena terbentuknya pada masa perkembangan seseorang, maka orang tua dianggap guru utama prasangka pada saat seseorang masih usia dini. Selain itu teman juga seseorang yang mempengarui prasangaka pada saat dalam usia skolah dan lingkunngan sekitar menjadi pengaruh prasangka pada usia dewasa dan tua.
Beberapa hal yang dapat menjadi sumber terbentuknya prasangka pada seseorang adalah sebagai berikut:
a. Perbedaan antar kelompok/ perbedaan antar ras atau etnis.
Prasaangka yang bersumber dari perbedaan etnis dapat di temukan pada masyarakat heterogen. Yang mempunyai latar kebudayaan yang berbeda-beda. Sedangkan yang bersumber dari perbedaan ras dapat di temukan dalam masyarakat yang multirasial seperti amerika dan Negara-negara eropa lainya.
b. Perbedaan idiologi
Ini terjadi pada masarakat di Negara yang memiliki idiologi yang kuat terhadap idiologi lain yang menjadi lawanya.
c. Perbedaan yang bersumber dari kejadian historis.
Contohnya:prasangka terhadap orang yang berkulit putih terhadap negro di amerika serikat. Yang berkar dari sejarah perbudakan orang-orang negro pada sekitar 300 tahun yang lalu. Walupun sekarang orang-orang negro sudah bangkit tetapi tetap saja orang-orang berkulit putih menganggap orangt negro sebagai manusua pemalas,bodoh, brutaldll.
3. Upaya Mengatasi Prasangka
Sesungguhnya mustahil bahwa prasangka dapat dihapuskan. Sebab selain prasangka itu bersumber dari dalam diri manusia dan interaksi antar manusia, juga disebabkan terlalu banyaknya faktor yang mempengaruhu prasangka, sehingga rasanya tidak ada satupun jalan terbaik untuk menghilangkan prasangka.
Meskipun demikian, prasangka dapat diantisipasi. Karena itu prasangka dapat dikurangi dampaknya. Para ahli menyebutkan usaha-usaha mengurangi prasangka harus dimulai dari pendidikan anak-anak di rumah dan di sekolah oleh orang tua dan guru. Sehubungan hal tersebut, pengajaran-pengajaran yang dapat menimbulkan prasangka sosial haruslah dihindari.
Upaya yang lain adalah dengan mengadakan kontak antara dua kelompok yang berprasangka, dan permainan peran atau role playing, yakni orang yang berprasangka diminta untuk berperan sebagai orang yang menjadi korban prasangka, sehingga orang yang berprasangka akan merasakan, mengalami, dan menghayati segala penderitaan yang menjadi korban prasangka.

C. KECERDASAN
Sejarah kecerdasan buatan
Pada awal abad 17, René Descartes mengemukakan bahwa tubuh hewan bukanlah apa-apa melainkan hanya mesin-mesin yang rumit. Blaise Pascal menciptakan mesin penghitung digital mekanis pertama pada 1642. Pada 19, Charles Babbage dan Ada Lovelace bekerja pada mesin penghitung mekanis yang dapat diprogram.
Bertrand Russell dan Alfred North Whitehead menerbitkan Principia Mathematica, yang merombak logika formal. Warren McCulloch dan Walter Pitts menerbitkan "Kalkulus Logis Gagasan yang tetap ada dalam Aktivitas " pada 1943 yang meletakkan pondasi untuk jaringan syaraf.
Tahun 1950-an adalah periode usaha aktif dalam AI. Program AI pertama yang bekerja ditulis pada 1951 untuk menjalankan mesin Ferranti Mark I di University of Manchester (UK): sebuah program permainan naskah yang ditulis oleh Christopher Strachey dan program permainan catur yang ditulis oleh Dietrich Prinz. John McCarthy membuat istilah "kecerdasan buatan " pada konferensi pertama yang disediakan untuk pokok persoalan ini, pada 1956. Dia juga menemukan bahasa pemrograman Lisp. Alan Turing memperkenalkan "Turing test" sebagai sebuah cara untuk mengoperasionalkan test perilaku cerdas. Joseph Weizenbaum membangun ELIZA, sebuah chatterbot yang menerapkan psikoterapi Rogerian.
Selama tahun 1960-an dan 1970-an, Joel Moses mendemonstrasikan kekuatan pertimbangan simbolis untuk mengintegrasikan masalah di dalam program Macsyma, program berbasis pengetahuan yang sukses pertama kali dalam bidang matematika. Marvin Minsky dan Seymour Papert menerbitkan Perceptrons, yang mendemostrasikan batas jaringan syaraf sederhana dan Alain Colmerauer mengembangkan bahasa komputer Prolog. Ted Shortliffe mendemonstrasikan kekuatan sistem berbasis aturan untuk representasi pengetahuan dan inferensi dalam diagnosa dan terapi medis yang kadangkala disebut sebagai sistem pakar pertama. Hans Moravec mengembangkan kendaraan terkendali komputer pertama untuk mengatasi jalan berintang yang kusut secara mandiri.
Pada tahun 1980-an, jaringan syaraf digunakan secara meluas dengan algoritma perambatan balik, pertama kali diterangkan oleh Paul John Werbos pada 1974. Tahun 1990-an ditandai perolehan besar dalam berbagai bidang AI dan demonstrasi berbagai macam aplikasi. Lebih khusus Deep Blue, sebuah komputer permainan catur, mengalahkan Garry Kasparov dalam sebuah pertandingan 6 game yang terkenal pada tahun 1997. DARPA menyatakan bahwa biaya yang disimpan melalui penerapan metode AI untuk unit penjadwalan dalam Perang Teluk pertama telah mengganti seluruh investasi dalam penelitian AI sejak tahun 1950 pada pemerintah AS.
Tantangan Hebat DARPA, yang dimulai pada 2004 dan berlanjut hingga hari ini, adalah sebuah pacuan untuk hadiah $2 juta dimana kendaraan dikemudikan sendiri tanpa komunikasi dengan manusia, menggunakan GPS, komputer dan susunan sensor yang canggih, melintasi beberapa ratus mil daerah gurun yang menantang.
Filosofi
Perdebatan tentang AI yang kuat dengan AI yang lemah masih menjadi topik hangat di antara filosof AI. Hal ini melibatkan filsafat budi dan masalah budi-tubuh. Roger Penrose dalam bukunya The Emperor's New Mind dan John Searle dengan eksperimen pemikiran "ruang China" berargumen bahwa kesadaran sejati tidak dapat dicapai oleh sistem logis formal, sementara Douglas Hofstadter dalam Gödel, Escher, Bach dan Daniel Dennett dalam Consciousness Explained memperlihatkan dukungannya atas fungsionalisme. Dalam pendapat banyak pendukung AI yang kuat, kesadaran buatan dianggap sebagai urat suci (holy grail) kecerdasan buatan.
Fiksi sains
Dalam fiksi sains, AI umumnya dilukiskan sebagai kekuatan masa depan yang akan mencoba menggulingkan otoritas manusia seperti dalam HAL 9000, Skynet, Colossus and The Matrix atau sebagai penyerupaan manusia untuk memberikan layanan seperti C-3PO, Data, the Bicentennial Man, the Mechas dalam A.I. atau Sonny dalam I, Robot. Sifat dominasi dunia AI yang tak dapat dielakkan, kadang-kadang disebut "the Singularity", juga dibantah oleh beberapa penulis sains seperti Isaac Asimov, Vernor Vinge dan Kevin Warwick. Dalam pekerjaan seperti manga Ghost in the Shell-nya orang Jepang, keberadaan mesin cerdas mempersoalkan definisi hidup sebagai organisme lebih dari sekedar kategori entitas mandiri yang lebih luas, membangun konsep kecerdasan sistemik yang bergagasan. Lihat daftar komputer fiksional (list of fictional computers) dan daftar robot dan android fiksional (list of fictional robots and androids).
Seri televisi BBC Blake's 7 menonjolkan sejumlah komputer cerdas, termasuk Zen (Blake's 7), komputer kontrol pesawat bintang Liberator (Blake's 7); Orac, superkomputer lanjut tingkat tinggi dalam kotak perspex portabel yang mempunyai kemampuan memikirkan dan bahkan memprediksikan masa depan; dan Slave, komputer pada pesawat bintang Scorpio.
Dr. Howard Gardner menemukan sebuah teori tentang kecerdasan. Ia mengatakan bahwa manusia lebih rumit daripada apa yang dijelaskan dari tes IQ atau tes apapun itu. Ia juga mengatakan bahwa orang yang berbeda memiliki kecerdasan yang berbeda.
Jenis kecerdasan pertama, kecerdasan linguistik, adalah kecerdasan dalam mengolah kata. Ini merupakan kecerdasan para jurnalis, juru cerita, penyair, dan pengacara. Jenis pemikiran inilah yang menghasilkan King Lear karya Shakespeare, Odyssey karya Homerus, dan Kisah Seribu Satu Malam dari Arab. Orang yang cerdas dalam bidang ini dapat berargu-mentasi, meyakinkan orang, menghibur, atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkannya. Mereka senang bermain-main de¬ngan bunyi bahasa melalui teka-teki kata, permainan kata (pun), dan tongue twister. Kadang-kadang mereka pun mahir dalam hal-hal kecil, sebab mereka mampu mengingat berbagai fakta. Bisa jadi mereka adalah ahli sastra. Mereka gemar sekali membaca, dapat menulis dengan jelas, dan dapat mengartikan bahasa tulisan secara luas.
Jenis kecerdasan kedua, Logis-matematis, adalah kecerdasan dalam hal angka dan hgika. Ini merupakan kecerdasan para ilmuwan, akuntan, dan pemrogram komputer. Newton menggunakan kecerdasan ini ketika ia menemukan kalkulus. Demikian pula dengan Einstein ketika ia menyu-sun teori relativitasnya. Ciri-ciri orang yang cerdas secara logis-mate-matis mencakup kemampuan dalam penalaran, mengurutkan, berpikir dalam pola sebab-akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, dan pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional.
Kecerdasan Spasial adalah jenis kecerdasan yang ketiga, mencakup berpikir dalam gambar, serta kemampuan untuk mencerap, mengubah, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek dunia visual-spasial. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin. Siapa pun yang merancang piramida di Mesir, pasti mempunyai kecerdasan ini. Demikian pula dengan tokoh-tokoh seperti Thomas Edison, Pablo Picasso, dan Ansel Adams. Orang dengan tingkat kecerdasan spasial yang tinggi hampir selalu mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi.
Kecerdasan musikal adalah jenis kecerdasan keempat. Ciri utama kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mencerap, menghargai, dan menciptakan irama dan melodi. Bach, Beethoven, atau Brahms, dan juga pemain gamelan Bali atau penyanyi cerita epik Yugoslavia, se-muanya mempunyai kecerdasan ini. Kecerdasan musikal juga dimiliki orang yang peka nada, dapat menyanyikan lagu dengan tepat, dapat mengikuti irama musik, dan yang mendengarkan berbagai karya musik dengan tingkat ketajaman tertentu.
Kecerdasan kelima, kinestetik-jasmani, adalah kecerdasan fisik. Kecerdasan ini mencakup bakat dalam mengendalikan gerak tubuh dan kete-rampilan dalam menangani benda. Atlet, pengrajin, montir, dan ahli bedah mempunyai kecerdasan kinestetik-jasmani tingkat tinggi. De¬mikian pula Charlie Chaplin, yang memanfaatkan kecerdasan ini untuk melakukan gerakan tap dance sebagai “Little Tramp”. Orang dengan ke¬cerdasan fisik memiliki keterampilan dalam menjahit, bertukang, atau merakit model. Mereka juga menikmati kegiatan fisik, seperti berjalan kaki, menari, berlari, berkemah, berenang, atau berperahu. Mereka adalah orang-orang yang cekatan, indra perabanya sangat peka, tidak bisa tinggal diam, dan berminat atas segala sesuatu.
Kecerdasan keenam adalah kecerdasan Antarpribadi. Ini adalah kemampuan untuk memahami dan bekerja sama dengan orang lain. Ke¬cerdasan ini terutama menuntut kemampuan untuk mencerap dan tang-gap terhadap suasana hati, perangai, niat, dan hasrat orang lain. Direk-tur sosial sebuah kapal pesiar harus mempunyai kecerdasan ini, sama halnya dengan pemimpin perusahaan besar. Seseorang yang mempunyai kecerdasan antarpribadi bisa mempunyai rasa belas kasihan dan tanggung jawab sosial yang besar seperti Mahatma Gandhi, atau bisa juga suka memanipulasi dan licik seperti Machiavelli. Namun, mereka semua mempunyai kemampuan untuk memahami orang lain dan melihat dunia dari sudut pandang orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, mereka dapat menjadi networker, perunding, dan guru yang ulung.
Kecerdasan Ketujuh adalah kecerdasan Intrapribadi atau kecerdasan dalam diri sendiri. Orang yang kecerdasan intrapribadinya sangat baik dapat dengan mudah mengakses perasaannya sendiri, membedakan berbagai macam keadaan emosi, dan menggunakan pemahamannya sendiri untuk memperkaya dan membimbing hidupnya. Contoh orang yang mempunyai kecerdasan ini, yaitu konselor, ahli teologi, dan wirau-sahawan. Mereka sangat mawas diri dan suka bermeditasi, berkontemplasi, atau bentuk lain penelusuran jiwa yang mendalam. Sebaliknya, mereka juga sangat mandiri, sangat terfokus pada tujuan, dan sangat disiplin. Secara garis besar, mereka merupakan orang yang gemar bela-jar sendiri dan lebih suka bekerja sendiri daripada bekerja dengan orang lain. (Armstrong: 1999: 3-6)
Kecerdasan kedelapan, Kecerdasan Naturalis (Lingkungan). Gardner menjelaskan inteligensi lingkungan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat membuat distingsi konsekuensial lain dalam alam natural; kemampuan untuk memahami dan menikmati alam; dan menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan pengetahuan akan alam.
Orang yang punya inteligensi lingkungan tinggi biasanya mampu hidup di luar rumah, dapat berkawan dan berhubungan baik dengan alam, mudah membuat identifikasi dan kla-sifikasi tanaman dan binatang. Orang ini mempunyai kemam¬puan mengenal sifat dan tingkah laku binatang, biasanya mencintai lingkungan, dan tidak suka merusak lingkungan hidup. Salah satu contoh orang yang mungkin punya inteligensi lingkungan tinggi adalah Charles Darwin. Kemampuan Dar¬win untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi serangga, burung, ikan, mamalia, membantunya mengembangkan teori evolusi.
Inteligensi lingkungan masih dalam penelitian lebih lanjut karena masih ada yang merasa bahwa inteligensi ini sudah termasuk dalam inteligensi matematis-logis. Namun, Gardner berpendapat bahwa inteligensi ini memang berbeda dengan inteligensi matematis-logis.
Kecerdasan kesembilan, Kecerdasan Eksistensial, intelegensi ini menyangkut kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia. Orang tidak puas hanya menerima keadaannya, keberadaannya secara otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari jawaban yang ter¬dalam. Pertanyaan itu antara lain: mengapa aku ada, mengapa aku mati, apa makna dari hidup ini, bagaimana kita sampai ke tujuan hidup. Inteligensi ini tampaknya sangat berkembang pada banyak filsuf, terlebih filsuf eksistensialis yang selalu mempertanyakan dan mencoba menjawab persoalan eksistensi hidup manusia. Filsuf-filsuf seperti Sokrates, Plato, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Kindi, Ibn Rusyd, Thomas Aquinas, Descartes, Kant, Sartre, Nietzsche termasuk mempunyai inteligensi eksistensial tinggi.

 1.      Pengertian kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ(bahasa Inggrisemotional quotient) adalah kemampuan seseorang untuk menerimamenilaimengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan oranglain di sekitarnya.Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaanterhadap informasi akan suatu hubungan.Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusiterhadap kesuksesan seseorang(Maliki.2009:15).
Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama darikecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.
Kecerdasan emosional dapat dikatakan sebagai kemampuan psikologis yang telah dimiliki oleh tiap individu sejak lahir, namun tingkatan kecerdasan emosional tiap individu berbeda, ada yang menonjol da nada pula yang tingkat kecerdasan emosional mereka rendah.Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh dua orang psikolog, yakni Peter Salovey dan John Mayer.
Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosinal (EQ) adalah “Himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan”. (Shapiro, 1998: 8).
Menurut psikolog lainnya, yaitu Bar-On (Goleman:2000: 180), mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan pribadi, emosi, dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.Sedangkan Goleman (2002:512), memandang kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intellegence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial.
Jadi dapat diartikan bahwa Kecerdasan Emosi atau Emotional Quotation (EQ) meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya.Kecerdasan emosi dapat juga diartikan sebagai kemampuan Mental yang membantu kita mengendalikan dan memahami perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan tersebut.
Jadi orang yang cerdas secara emosi bukan hanya memiliki emosi atau perasaan tetapi juga mampu memahami apa makna dari rasa tersebut. Dapat melihat diri sendiri seperti orang lain melihat,serta mampu memahami orang lain seolah-olah apa yang dirasakan oleh orang lain dapat kita rasakan juga.
      2.      Pentingnya kecerdasan Emosional
Menurut Alan Mortiboys Peter Salovey dan Jack Mayer (1990) Kecerdasan emosional (EQ) meliputi: 1. kemampuan untuk merasakan secara akurat, menilai dan mengekspresikan emosi; 2. kemampuan untuk mengakses dan/atau menghasilkan perasaan ketika ia bersedia berpikir; 3. kemampuan untuk memahami emosi dan pengetahuan emosional;dan 4. Memampuan untuk mengatur emosi untuk mempromosikan pertumbuhan emosi dan intelektual.Kecerdasan emosi merupakan kecerdasan vital manusia yang sudahsemestinya terus dilatih, dikelola dan dikembangkan secara intens.Karena kecerdasan emosi memiliki kesinambungan yang cukup erat dengan kualitashidup manusia, dimana kecerdasan emosi berkait erat dengan adanya jiwa yang sehat. Sehingga dari jiwa yang sehat tersebut manusia sebagai spesies yang rentan mengalami ketidakbahagiaan akan memiliki peluang jauh lebih besar di dalam memperoleh hidup bahagia.Orang yang mampu mengendalikan kecerdasan emosional yang dimilikinya akan memiliki peluang yang lebih baik untuk bisa sukses dan dipastikan lebih tenang dalam menyelesaikan permasalahan yang tergolong rumit.
       3.      Peran kecerdasan Emosional dalam perkembangan peserta didik
Masa remaja atau masa adolensia merupakan masa peralihan atau masa transisi antara masa anak ke masa dewasa.Pada masa ini individu mengalami perkembangan yang pesat mencapai kematangan fisik, sosial, dan emosi.Pada masa ini dipercaya merupakan masa yang sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga dan lingkungannya.
Perubahan-perubahan fisik yang dialami remaja juga menyebabkan adanya perubahan psikologis. Hurlock (1973: 17) disebut sebagai periode heightened emotionality, yaitu suatu keadaan dimana kondisi emosi tampak lebih tinggi atau tampak lebih intens dibandingkan dengan keadaan normal. Emosi yang tinggi dapat termanifestasikan dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti bingung, emosi berkobar-kobar atau mudah meledak, bertengkar, tak bergairah, pemalas, membentuk mekanisme pertahanan diri.Emosi yang tinggi ini tidak berlangsung terus-menerus selama masa remaja. Dengan bertambahnya umur maka emosi yang tinggi akan mulai mereda atau menuju kondisi yang stabil.Kecerdasan emosional juga berkaitan dengan arah yang positif jika remaja dapat mengendalikannya, memang dibutuhkan proses agar seseorang dapat mencapai tingkat kecerdasan emosional yang mantap.
       4.     Hubungan serta Penerapan kecerdasan emosional dalam pembelajaran peserta didik
Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja.Faktor tersebut antara lain Kepribadian, lingkungan, pengalaman, kebudayaan, dan pendidikan.
pendidikan, merupakan variabel yang sangat berperan dalam perkembangan emosi individu. Perbedaan individu juga dapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan kondisi atau keadaan individu yang bersangkutan.
Sehubungan dengan hal tersebut  orang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik  diharapkan dapat menampilkan sikap berpikir yang tercermin dari cara berpikir yang logis, cepat, mempunyai kemampuan abstraksi yang baik, mampu mendeteksi, menafsirkan, menyimpulkan, mengevaluasi, dan mengingat, menyelesaikan masalah dengan baik, bertindak terarah sesui dengan tujuan,Serta tingkat kematangan yang baik ketenangan. Hal tersebut berkaitan juga dengan kemampuan inteljensia yang baik (IQ).
Apabila dikaitkan dengan prestasi belajar,maka kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor yang juga turut menentukan prestasi. Individu yang memiliki IQ yang tinggi diharapkan akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi, karena IQ seringkali dianggap modal potensial yang memudahkan seseorang dalam belajar. Maka seringkali muncul anggapan bahwa IQ merupakan faktor yang menunjang prestasi belajar yang baik.Bahkan ada sebagian masyarakat yang menempatkan IQ melebihi porsi yang seharusnya. Mereka menganggap hasil tes IQ yang tinggi merupakan jaminian kesuksesan belajar seseorang sebaliknya IQ yang rendah merupakan vonis akhir bagi individu bahwa dirinya tidak mungkin mencapai prestasi belajar yang baik anggapan semacam ini tidaklah tepat, karena masih banyak faktor yang ikut menentukan prestasi,terutama EQ serta SQ (Spiritual quotient) Anggapan yang tidak tepat tersebut bisa berdampak tidak baik bagi individu karena dapat melemahkan motivasi siswa dalam belajar yang justru dapat menjadi awal dari kegagalan yang seharusnya tidak perlu terjadi.Untuk itu, perlu ditanamkan dalam benak siswa bahwa kesuksesan belajar tidak hanya ditentukan dengan kecerdasan yang dimiliki, tetapi juga bagaimana mengendalikan diri sendiri.
Penerapan kecerdasan emosional dalam pembelajaran peserta didik dalam penting untuk dilakukan.Dimana peserta didik diarahkan secara perlahan untuk mengembangkan, mengasah serta mengendalikan emosi yang di miliki, sehingga berdampak baik bagi kehidupan siswa tersebut, baik di dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, dalam bidang akademis maupun non akademis.

BAB III
PENUTUP

A.               KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya adalah:
         Sikap dan prasangka terbentuk dari pengalaman manusia bukan bawaan dari lahir
         Sikap tidak hanya ditujukan untuk ilmu sosial saja, tetapi juga penting untuk orang yang ingin memengaruhi kegiatan soaial, seperti orang tua, pendidik, pemimpin, pembaharu, politikus, pedagang, dan orang-orang yang tertarik untuk mengembangkan sikap-sikap baru dan cara untuk menguatkan atau melemahkan sikap.
         Perubahan sikap pada individu, ada yang terjadi dengan mudah dan ada yang sukar. Hal ini bergantung pada kesiapan seseorang untuk menerima atau menolak stimulus yang datang kepadanya.
         Dapat disusun berbagai upaya untuk mengubah sikap seseorang,  misal melalui  pendidikan, pelatihan, komunikasi, penerangan dsb.
         Prasangka negatif sulit dihilangkan tetapi dapat dikurangi, dan dapat diantisipasi pembentukanya dari masa kanak-kanak.
      Kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ (emotional quotient) adalah kemampuan seseorang untuk menerimamenilaimengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan oranglain di sekitarnya.Peserta didik yang memiliki kecerdasan emosional yang baik, akan membentuk generasi yang berpendidikan berkarakter. Kecerdasan Emosi atau Emotional Quotation (EQ) meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya.Kecerdasan emosi dapat juga diartikan sebagai kemampuan Mental yang membantu kita mengendalikan dan memahami perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan tersebut.Orang yang mampu mengendalikan kecerdasan emosional yang dimilikinya akan memiliki peluang yang lebih baik untuk bisa sukses dan dipastikan lebih tenang dalam menyelesaikan permasalahan yang tergolong rumit.Dengan bertambahnya usia maka emosi yang tinggi akan mulai mereda atau menuju kondisi yang lebih stabil.Kecerdasan emosional juga berkaitan dengan arah yang positif jika remaja dapat mengendalikannya, memang dibutuhkan proses agar seseorang dapat mencapai tingkat kecerdasan emosional yang mantap. Penerapan kecerdasan emosional sangat penting di lakukan dalam proses belajar mengajar, karena di saat individu memiliki kecerdasan emosional yang baik, maka kemungkinan besar perkembangan individu tersebut akan baik dan berjalan lancar
      DAFTAR PUSTAKA
Sobur, Alex. 2003. Pesikologi Umum Dalam Lintasan Sejarah. Bandung:Pustaka Setia.
http://psikologi-online.com/memahami-prasangka
http://riyan-adiyasa.blogspot.com/2011/12/sikap-dan-prasangka.html
Pendidikan Emosional Usia dini.Bandung:C.V Tirta.
Goeleman.2000.Kecerdasan Manusia.Jakarta: Gramedia.
Maliki,S.2009.Manajemen Pribadi Untuk Kesuksesan Hidup.Yogyakarta: Kertajaya.
Shapiro.1998.Kecerdasan Otak Manusia.Jakarta:Kanaya Press.

Alex sobur.psikologi umum (Bandung: CV Pustaka setia, 2003)533
[1][2] Kartini kartono. Psikologi umum (Bandung: CV Bandar maju, 1984) 84
[2][3] Alex sobur.psikologi umum (Bandung: CV Pustaka setia, 2003)369

0 Response to "Makalah Dasar Pemahaman Tingkah Laku"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel